Jumat, 17 Mei 2013

Kejujuran yang kata dasarnya ialah jujur, kata ini tidak asing lagi di telinga kita. Saya bisa katakan kejujuran ialah sebuh kata yang sangat sederhana, tetapi dalam kehidupan, bisa sangat langkah dan mahal harganya.

Kejujuran akan membuat kita semakin merasa percaya diri dalam segala hal, memang sangat sulit untuk berkata jujur ketika kita di uji, misalnya saja : Satu ketika saudara anda melakukan sebuah kesalahan dan dengan sadar andapun menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu salah secara hukum, kemudian anda di minta untuk menjadi saksi terhadap kesalahan yang saudara anda perbuat, langkah mana yang akan anda pilih.
Jebloskan saudara anda ke dalam penjara? ataukah
Jebloskan diri anda ke penjara akhirat(forever)?
Tetapi kehidupan kini banyak orang yang akan lebih memilih untuk jebolkan dirinya ke penjara akherat (abadi) padahal di dalam sebuah hadist di katakana bahwa “berkatalah benar (jujur) walaupun itu pahit”.

Sesuai paragraf di atas, ternyata setiap orang sulit untuk jujur pada dirinya sendiri padahal mereka sudah mengetahui kosekuensi dari berkata yang tidak jujur ingat kawan kebenaran itu akan terungakap kapanpun karena perputaran bumi ini siap menjawab dan mengungkapkan kebenaran yang ada pada manusia. Memang kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit tetapi pada saat nilai sebuah kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan apakah kita masih bisa pegang kejujuran itu, atau kita akan biarkan dia tergilas oleh keadaan. Saya ingin mengajak kita kembali melihat sekilas yang patut diteladani kisah yang semoga bisa menjadi motivasi bagi kita :

Ketika Syeh Abd. Kadir berusia 18 tahun beliau meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke baghdad menuntut ilmu agama. Ibunya tidak berani menghalangi keinginan dari syeh Abd. Kadir, walau berat hati Sebelum keberan anaknya, beliau berpesan untuk tidak berkata bohong dalam keadaan apapun. Ibunya memberinya uang dan uang itu di jahit di dalam pakaiannya, selepas itu ibunya mengikhlaskan Syeh Abd. Kadir untuk menutut ilmu.
Bersama rombongan yang kebutulan akan menuju ke Baghdad, ketika dalam perjalanan mereka diserang oleh 60 orang perampok hingga semua harta mereka terkuras habis tak ada sisa. Akan tetapi perampok itu melepaskan Syeh Abd. Kadir.
Namun, salah seorang dari para perampok itu bertanya pada Syeh Abd. Kadir, apa yang ia bawa? Syeh Abdul Kadir menjawab, dia membawa uang 40 dirham di dalam pakaiannya. Kemudian perampok itu mengambil pakaiannya dan dipotong-potong untuk mengabil uang tersebut.
Karena merasa tidak biasanya pemimpin dari perampok itu bertanya kepada Syeh, mengapa engkau mengakui keberadaan uangmu, padahal kau tahu bahwa uangmu akan di rampas.
Syeh Abdul Kadir menerangkan bahwa ia telah di pesan oleh ibunya agar ia tidak berkata bohong dalam keadaan apapun, mendengar katerangan Syeh Abd. Kadir, ketua perampok itu menangis dan menginsafi kesalahannya. Abdul Kadir seorang anak kecil tidak mengingkari kata-kata ibunya, sedangkan ia yang telah dewasa, namun banyak melanggar perintah Allah S.W.T sepanjang hidupnya, kemudian ketua perampok itu bersumpah tidak akan merampok lagi dan ia bertaubat di hadapan Syeh Abdul Kadir.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar