Jumat, 17 Mei 2013

Globalisasi dengan segala huru-hara nya tidak hanya membuat masyarakat harus berfikir memutar otak untuk kelangsungan hidupnya, namun penyakit juga mulai bermetamorfosis ke berbagai macam varian, mulai dari teknik penularan, pertahanan dalam tubuh induk, efek sakit yang dirasakan dan lain-lain.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai bahwa banyak sekali model atau teknik yang dibuat oleh masyarakat untuk membendung penularan penyakit. Namun dibalik itu semua perlu adanya sedikit pengetahuan mengenai faktor resiko yang akan timbul. Obat dalam masyarakat, dikenal sebagai cara yang mujarab untuk membius mati penyakit, sayangnya dari sisi lain kita melihat bahwa terkadang kecenderungan untuk membudidayakan obat hanya dilatar belakangi pengetahuan dari pengalaman pribadi.

Dalam ilmu farmakologi, ada sebuah slogan yang menjadi dasar pergerakan para penduduk farmasi untuk berhati-hati dalam menciptakn inovasi baru berbau obat-obatan “obat itu akan menjadi racun ketika berlebihan dosisnya, namun racun itu bisa disembuhkan dengan dosis yang tepat”, ini tidak bertujuan untuk mengendorkan nyali para pejuang farmasi namun dalam tanda kutip sebagai bom dan boomerang yang sewaktu-waktu akan meledak karena kesalahan yang dilakukan para pemiliknya. Jika di telusuri kembali kemungkinan kita akan melakukan perbandingan yang agak sedikit menyudutkan para peracik obat-obatan yang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan tentang obat-obatan itu sendiri, karena slogan tadi lebih kurang 50% telah menjelaskan bahaya obat yang di racik tidak berdasarkan pengetahuan tentang obat-obatan akan memiliki efek yang besar kepada produsen, lebih-lebih jika tidak dapat dipertanggung jawabkan secara medis.

Dalam lingkup healt profesion selain pejuang farmasi yang menjadi central of attention, juga dokter yang dimana dalam profesinya dokter berhak penuh untuk memberikan diagnose dan kemudian rantai kerjanya dilanjutkan kepada farmasi yang akan bertindak penuh untuk pemenuhan pemulihan kembali pasien. Dalam hal ini perawat yang notabenennya adalah profesi saya. Dalam etik profesi kami dituntut untuk memastikan obat yang disediakan para pejuang farmasi sudah dicernah oleh mulut pasien. Terlebih dahulu, saya ingin mengajak anda membaca dan kemudian menanamkan ke dasar otak anda mengenai fungsi obat, diantaranya :

  1. Obat bermanfaat untuk mencegah penyakit
  2. Obat bermanfaat untuk mengurangi rasa sakit
  3. Obat bermanfaat untuk ,mengobati penyakit, dan
  4. Obat bermanfaat untuk menjaga kesehata

Ada stigma yang tertanam dalam benak para pelaku dan pengguna obat-obatan bahwa dari dua jenis obat (obat alami dan obat kimia), yang memiliki tingkat keamanan yang tinggi adalah obat alami dimana dalam beberapa kasus, banyak yang berpendapat bahwa obat alami seperti jamu, herbal dan krunya lebih menyehatkan karena proses pengolahannya menggunakan bahan dan alat alami, namun jangan menggunakan slogan ini di moderenisasi era ini karena bentuk inovasi dengan bantuan alat canggih lebih mempermudah para produser obat herbal untuk memproduksi lebih banyak obat herbal yang menggunakan alat-alat berbahan kimiawi.

Dokter ketika menentukan diagnose dalam hal ini penentuan dosis obat, tidak semata-mata hanya merekah dan menerkah-nerkah, namun profesinya menuntut untuk mengetahiu kerja obat dan kebutuhan organ ketika obat tersebut melewati tenggorokan dan proses mencernahnya di dalam tubuh. Sehinngga ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dokter dapat mengambil andil dalam pertanggung jawabannya. Maaf mungkin penjelasan saya terlalu menjuru kepada ilmu kesehatan. Saya akan memberikan sedikit gambaran yang berupah contoh dengan bahasa yang mudah di mengerti. Ketika musim hujan, air dari gunung dengan volume yang tinggi akan menyebabkan sungai tak mampu menampungnya secara penuh sehingga air meluap keluar dan akan menjadi banjir, banjir akan dengan mudah memberikan manifestasi klinik kepada kehidupan sehari-hari. Aktifitas sehari-hari akan terganggu dan pekerjaan terbengkalai. Begitupun obat dengan dosis yang tinggi, tubuh tidak mampu mencerna dengan baik sehingga obat yang tadintya untuk menyebuhkan, berubah arus menjadi racun karena proses pencernaan yang tidak lancar.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak kepada kita sekalian agar jangan bergantung pada obat-obatan yang kemudian itu akan menjadi racun bagi tubuh kita karena mengonsumsi tidak dengan kebutuhan dan dosis yang diberikan. Jadikan hidup ini “healthy inside and fresh outside”.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar