Minggu, 15 November 2015

Menurut Sir Ken Robinson, dalam pembicaraan beliau “How to escape education death’s valley”, berpendapat bahwa fungsi dan tugas seorang pengajar atau guru adalah untuk memfasilitasi pembelajaran. Hal yang sama disebutkan dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 4, dijelaskan bahwa guru sebagai agen pembelajaran adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran dan pemberi inspirasi bagi peserta didik.

Jika dipikir-pikir tugas guru itu memang sangat berat dan luar biasa, jangan suka marah jika banyak guru tidak berhasil mengemban tugasnya dengan baik. Sebaliknya, yang harus kita lakukan adalah berterima kasih kepada mereka, karena masih mau mengemban tugas berat yang banyak orang tidak mau melakukannya. Guru sebagai seorang fasilitator tentu harus menyiapkan fasilitas dan metode yang baik dalam pembelajar agar dapat dipahami dengan baik oleh peserta didik, menjadi motivator sudah pasti harus memiliki jiwa motivator agar para peserta didik dapat termotivasi dan mau belajar.

Berhubungan dengan tugas guru sebagai fasilitator di bawah ini dijelaskan beberapa hal yang yang semoga dapat membantu dan mempermudah dalam mengemban tugasnya. Di adaptasi dari tulisan bapak Akhmad Sudrajat "Peran Guru Sebagai Motivator".

  1. Mendengarkan dan tidak mendominasi Siswa merupakan pelaku utama dalam proses belajar. Guru sebagai seorang fasilitator, diharapkan agar lebih memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif.
  2. Bersikap sabar Aspek utama dalam belajar adalah proses belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Jika guru kurang sabar melihat proses yang kurang lancar lalu mengambil alih, maka hal ini sama saja dengan guru telah menutup kesempatan belajar bagi siswa.
  3. Menghargai dan rendah hati Guru berupaya menghargai siswa dengan menunjukkan kesungguhan dan kebanggaan pada pengetahuan dan pengalaman pelajar.
  4. Mau belajar Agar dapat diterima dan didengar oleh siswa, sebagai seorang guru sebaiknya harus memahami dan mau belajar tentang mereka, dengan begitu guru akan lebih memahami metode-metode yang baik untuk melakukan pendekatan.
  5. Bersikap akrab dan melebur Hubungan dengan siswa sebaiknya dilakukan dalam suasana akrab, santai, bersifat dari hati ke hati, sehingga siswa tidak merasa kaku dan sungkan berhubungan dengan guru.
  6. Tidak berusaha menceramahi Kebanyakan pelajar memiliki pengalaman, pendirian, dan keyakinan sendiri. Oleh karena itu, sebagai seorang guru perlu berhati-hati dalam dalam memberikan ceramah, sebaiknya lebih baik jika berusaha berbagi pengalaman ketimbang harus menghakimi dan membesar-besarkan masalah yang belum jelas sebenarnya.
  7. Berwibawa Meskipun pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang akrab dan santai, sebagai seorang fasilitator, sebaiknya seorang guru tetap dapat menunjukkan kesungguhan di dalam belajar, sehingga siswa akan tetap menghargai dan tidak menyepelekan.
  8. Tidak memihak dan mengkritik Di tengah kelompok siswa sering kali terjadi pertentangan pendapat. Dalam hal ini, diupayakan guru bersikap netral dan berusaha memfasilitasi komunikasi di antara pihak yang berbeda pendapat, untuk mencari kesepakatan.
  9. Bersikap positif Guru mengajak siswa untuk memahami keadaan dirinya dengan menonjolkan potensi-potensi yang ada, dan sebaiknya menghindari mengeluhkan keburukan-keburukannya. Hal tersebut dilakukan agar pelajar terus dan tetap fokus pada pikiran-pikiran positif yang mereka harus raih dan menghindari dari pikiran-pikiran negatif yang tidak seharusnya mereka pikirkan.

Sebagai penutup dari tulisan ini, jika anda berkesempatan saya rekomendasikan untuk melihat video “From zero to infinity” bercerita tentang perjalanan anak-anak pedalaman papua yang belajar matematika sampai ke Jakarta. Saya juga ingin berterima kasih kepada guru-guru di manapun anda berada. Terima Kasih yang sebesar-besarnya karena telah mendidik, mengajarkan, dan membimbing kami dan adik-adik kami.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar